Senin, 28 Oktober 2013

Analisis Risiko Saham Perusahaan, Risiko Bisnis, dan Analisis Portfolio Bisnis Perusahaan

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Setiap perusahaan mempunyai suatu misi dan misi.Pada era modern seperti saat ini, setiap perusahaan bersaing untuk mencapai posisi yang sekuat-suatnya dalam pasar.Dengan menggunakan sistem pasar, teknologi informasi untuk menganalisi masalah-masalah yang terjadi dalam pasar.untuk proses informasi sebagai pendukung yang lebih baik, manajemen perusahaanpun harus benar-benar aktif dalam menanggapi masalah tersebut. Dalam perusahaan PT. Holcim Indonesia, Tbkini perusahaan selalu melihat resiko pada pasar sehingga tiap tahunnya produk mereka bisa terus mengalami volume penjualan yang terus meningkat.Berorientasi pada pasar dan juga memberikan pelayanan yang terbaik pada masyarakat.Sehingga terbukti sampai sekarang perusahaan ini bisa terus melayani masyarakat dan selalu memberikan produk-produk yang terbaik.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka terdapat beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
·         Bagaimana deskripsi PT. Holcim Indonesia, Tbk?
·         Bagaimana caramenganalisis risiko saham perusahaan,risiko pasar,dan risiko bisnis PT. Holcim Indonesia, Tbk?
·         Bagaimana cara menganalisis portfoilio bisnis,PT. Holcim Indonesia, Tbkdengan menggunakan BCG Matrix?serta faktor-faktor yang digunakan untuk menganalisis.
1.3  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka beberapa tujuan sebagai berikut :
·         Untuk dapat menjelaskan deskripsi PT. Holcim Indonesia, Tbk
·      Untuk dapat menjelaskan cara menganalisis risiko saham perusahaan,risiko pasar,dan risiko bisnis PT. Holcim Indonesia, Tbk
·    Untuk dapat menjelaskan cara menganalisis portfoilio bisnis, PT. Holcim Indonesia, Tbk dengan menggunakan BCG Matrix serta faktor-faktor yang digunakan untuk menganalisisi.

BAB II
PT. HOLCIM INDONESIA, Tbk
2.1 Profil Perusahaan
Holcim dikenal sebagai pelopor dan inovator di sektor industri semen yang tercatat sebagai sektor yang tumbuh pesat seiring pertumbuhan pasar perumahan, bangunan umum dan infrastruktur.Kini tengah dikembangkan usaha waralaba yang unik, yakni Solusi Rumah, yang menawarkan solusi perbaikan dan pembangunan rumah dengan biaya terjangkau dengan dukungan lebih dari 14.700 ahli bangunan binaan Holcim, waralaba yang  hingga 2012 telah mencapai 433 gerai, dan staf penjualan via telepon yang jumlahnya terus bertambah. Holcim Beton adalah perusahaan yang pertama memasarkan SpeedCrete®, produk beton cepat kering untuk membantu menghemat waktu perbaikan jalan dan proyek pembangunan, sementara layanan pemesanan via telepon MiniMix memudahkan konsumen mendapatkan produk beton jadi pada hari yang sama.Berikut ini adalah Dewan direksi dalam perusahaan holcim :
2.2  Visi& Misi
Misi
Membangun Holcim Indonesia menjadi perusahaan yang memberikan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan dengan:
Ø  Menyediakan solusi pembangunan sesuai prinsip berkelanjutan bagi setiap segmen pelanggan tertentu.
Ø  Memperhatikan keselamatan kerja dan kelestarian lingkungan.
Ø  Membina kemampuan sumber daya manusia, berinovasi dan membangun jaringan yang kuat.
Visi
Menyediakan solusi berkelanjutan untuk membangun masa depan masyarakat.
2.3  Sekmen Pasar
Saat ini sedang dibangun unit produksi yang ketiga di Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas tahunan 3,4 juta ton dan direncanakan mulai berjalan pada tahun 2013 ini.Kami satu-satunya produsen yang menyediakan produk dan layanan terintegrasi yang meliputi 10 jenis semen, beton dan agregat.Sekmen bisnis antara lain :
Semen
  • Holcim Indonesia memproduksi sekitar 7 juta ton semen dan klinker pertahun untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri maupun untuk diekspor ke negara-negara sekawasan.
Agregat
  • Holcim Indonesia mengoperasikan dua tambang agregat, yaitu di Maloko, Jawa Barat, dan di Jeladri, Jawa Timur. Keduanya memasok bahan untuk proyek pembangunan infrastruktur dan umum skala besar, dan untuk Holcim Beton yang memproduksi beton jadi.
Beton
  • Holcim Beton beroperasi selama 24 jam per hari melalui jaringan pengolahan beton jadi yang terletak di jantung kota dan sekitar Jakarta dan Surabaya serta lokasi-lokasi strategis lainnya di Jawa,semakin dekat dengan pelanggan dan menyediakan armada truk mixer dalam jumlah besar.
BAB III
ANALISIS STANDAR DEVIASI RISIKO SAHAM, RISIKO PASAR, DAN RISIKO BISNISPT. HOLCIM INDONESIA, Tbk

3.1  Analisis standar deviasi Return Saham dan Return Pasar
Return merupakan hasil yang diharapkan akan diperoleh di masa mendatang dari investasi dan untuk mendapatkannya biasanya akan disertai dengan berbagai macam risiko. Analisis tingkat return saham dan pasar merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat return dan risiko.
Standar deviasi : disebut juga simpangan baku.  Seperti halnya varians, standar deviasi juga merupakan suatu ukuran dispersi atau variasi.  Standar deviasi merupakan ukuran dispersi yang paling banyak dipakai.  Hal ini mungkin karena standar deviasi mempunyai satuan ukuran yang sama dengan satuan ukuran data asalnya.  Misalnya, bila satuan data asalnya adalah cm, maka satuan standar deviasinya juga cm.
Daily Stock Return
Ri = 0.498232942
Daily Market Return
Rm = 0.56289812
3.2 Beta ( β )
Berdasarkan sumber terpercaya, beta adalah mendefinisikan sebagai sensitivitas dari return saham terhadap return pada portofolio pasar. Beta juga dikenal sebagai elastisitas keuangan.
ü  Ketika beta " 1 " itu berarti harga saham sensitif terhadap fluktuasi pasar karena ketika perubahan return pasar, sehingga harga saham akan berubah (mengikuti harga pasar). Misalnya jika pasar naik, sehingga harga saham akan naik, tetapi jika pasar turun, sehingga harga akan turun drastis.
ü  Saham dengan elastisitas atau beta di atas " 1 " yang dikenal sebagai saham agresif.
ü  Kemudian jika beta kurang dari "1" itu berarti harga saham tidak sensitif terhadap beberapa perubahan pasar, atau mungkin kita dapat mengatakan bahwa harga saham lebih stabil (tidak benar-benar mengikuti harga pasar). Jadi, ketika perubahan return pasar, harga saham tidak akan berubah secara signifikan. Saham dengan elastisitas atau beta bawah "1" yang dikenal sebagai saham defensif.

Maka, berdasarkan hasil yang didapat sesuai laporan perusahaan β = 1,0007 (Saham dengan elastisitas atau beta di atas " 1 " yang dikenal sebagai saham agresif ).Dimana beta sangat mempengaruhi keputusan untuk buy atau sell suatu saham, tentunya bila keadaan sangat agresif PT. Holcim Indonesia, Tbk bisa saja menjual atau tidak sahamnya karena β 1,0007> 1 sehingga keuntungan yang didapat bisa lebih besar.Karena beta saham tingg,berarti risiko PT. Holcim Indonesia, Tbkterhadap saham tersebut tinggi dan memiliki tingkat pengembalian investasi yang tinggi juga. Selain itu berpengaruh positif terhadap return saham,artinya  karenaβ 1,0007 > 1 maka akan mempengaruhi besar return saham.

3. 3.  Risiko bisnis perusahaan
Jenis resiko perusahaan PT. Holcim Indonesia, Tbk adalah :
1.      Risiko teknis :Risiko yg terjadi akibat wirausaha kurang mampu dalam mengambil keputusan. Faktor penyebab:
ü  Terjadi pemogokan karyawan, akibat kesejahteraan kurang diperhatikan
           ü  Terjadi kebakaran akibat keteledoran dan kurang kecermatan
   ü  Penempatan tenaga kerja yang kurang tepat sehingga produktivitas kerja            menurun
Dari beberapa faktor penyebab terjadinya risiko teknis diatas, PT. Holcim Indonesia, Tbk. telah melakukan antisipasi yaitu dengan menerapkan “Kesehatan dan Keselamatan Kerja” yang dengan slogannya “Utamakan Keselamatan – Tanpa Kompromi”. Dengan slogan tersebut PT. Holcim Indonesia, Tbk. telah behasil mencapai tujuan perusahaan untuk menyediakan tempat kerja yang aman dari bahaya bagi karyawannya. Contoh bentuk pelatihan “Kesehatan dan Keselamatan Kerja” yang diterapkan PT. Holcim Indonesia, Tbk adalah cara mengemudikan kendaraan dengan baik, cara mengendarai dan mengendalikan dump truck, membuat program penanganan kondisi darurat, cara mengoperasikan forklift, P3K, vertical rescue, dan lain-lain.
2. Risiko operasianal : Risiko operasional adalah risiko yang antara lain disebabkan ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, adanya problem eksternal.Faktor penyebab:
ü  Infrastruktur, seperti Teknologi, Kebijakan, Lingkungan, Pengamanan, Perselisihan,dll
ü  Proses
ü  Sumber daya
Dari beberapa faktor penyebab terjadinya risiko operasional diatas, PT. Holcim Indonesia, Tbk. telah mengambil tindakan yaitu dengan didirikannya Akademi Holcim yang fungsinya sebagai pusat pendidikan sumber daya  manusia dan merupakan yang pertama di kawasan Asia Pasifik, merumuskan dan menyelenggarakan  beragam program pengembangan diri dan organisasi. Akademi ini mengadakan pendidikan ketrampilan di bidang kepemimpinan dan manajemen, pendidikan teknis dan fungsional, serta program pelatihan yang dirancang secara khusus, yaitu program Organizational Performance Improvement (OPI). Produksi semen juga semakin tinggi dengan menekan faktor kerugian produksi, peningkatan kemampuan teknis dan motivasi tim, serta kecakapan karyawan dalam memecahkan masalah.
3.      Risiko pasar : Risiko yang terjadi akibat produk yang dihasilkan kurang laku atau tidak laku di pasar. Faktor penyebab:
ü  Adanya perkembangan teknologi
ü  Produk sudah kuno (absolensence)
ü  Kegagalan dalam memprediksi perubahan pasar
Dari beberapa faktor penyebab terjadinya risiko pasar diatas, PT. Holcim Indonesia, Tbk. telah mengambil tindakan yaitu dengan melakukan inovasi, hal ini dilakukan agar dapat bersaing dengan pesaing lain, selain itu juga untuk mendekatkan diri lebih kepada konsumen. Contoh inovasi yang dilakukan adalah Solusi Rumah. Solusi Rumah merupakan sistem pembangunan rumah dengan biaya terjangkau yang melibatkan produksi material berbasis semen, toko material, lembaga keuangan, disain rumah, dan teknik konstruksi yang aman dan cepat dengan menggunakan ahli bangunan yang berkualitas. Sementara tim arsitek Holcim terus menciptakan berbagai disain rumah.
Pada gambar berikut ini kami menghubungkan Rata-Rata Kurs dengan Rata-Rata IHSGdan Resiko Bisnis
Dalam resiko bisnis pasti tidak dapat lepas dari yang namanya Kurs dan IHSG karena mempunyai hubungan yang erat, misal saat anda akan membeli suatu saham pasti anda akan mempertimbangkan Kursnya, apakah naik turunnya nilai tukar rupiah sudah dalam harga yang wajar, sedangkan IHSG menunjukkan pergerakan pertumbuhan sahamnya, apakah saham yang akan dibeli tersebut nantinya akan mendatangkan keuntungan atau merugi. 
BAB IV
ANALISIS PORTFOLIO PT. HOLCIM, Tbk
DENGAN MENGGUNAKAN BCG MATRIX
4.1  BCG MATRIX
Boston Consulting Group (BCG) Matrix merupakan metode yang digunakan untuk penyususnan strategic business unit (SBU) dengan melakukan klasifikasi BCG Matrix yang dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
-            Star, pada posisi ini perusahaan benar-benar berada dalam posisi puncak dimana berada dalam kondisi pertumbuhan pasar cukup pesat di lain pihak konsumen atau pangsa pasar yang dimiliki oleh perusahaan tersebut juga tinggi. Dalam posisi perusahaan akan gencar melakukan investasi yang cukup besar dalam meningkatkan kemampuan produksi serta kemampuan persediaan serta distribusinya sehingga dapat memanfaatkan dengan maksimal potensi pasar yang masih bertumbuh ini.
-            Cash Cows, pada posisi ini perusahaan telah melewati posisi star, dimana potensi pasar yang ada telah dimanfaatkan secara maksimal dengan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan.
-            Dogs, pada posisi ini perusahaan benar mengalami situasi yang sulit, dimana pangsa pasar yang kecil, artinya perusahaan tidak memiliki jumlah konsumen yang cukup banyak dan perusahaan juga berada pada posisi dimana pertumbuhan pasarnya rendah.Perusahaan pada posisi ini perlu melakukan perbaikan yang seperti inovasi produk hingga strategi dalam promosi agar dapat merebut pangsa pasar.
-    Questions Marks, kondisi ini buruk bagi perusahaan karena kebutuhan kasnya tinggi sementara pendapatannya rendah.Pada posisi ini perusahaan atau produk berada pada posisi dimana memiliki pangsa pasar yang kecil tetapi masih berada dalam kondisi dimana pasar mengalami pertumbuhan yang cukup besar sehingga masih terdapat potensi untuk menjadi star.
Bila dilihat dari pangsa pasar PT. Holcim Indonesia, Tbktermasuk dalam cash cows karena perusahaan cenderung dalam kondisi yang stabil kalaupun naik, kenaikan tidaklah terlalu tinggi.
4.2   Faktor-Faktor yang Digunakan untuk Analisis BCG Matrix
Dalam analisis BCG Matrix, terdapat dua faktor yang paling mempengaruhi  dalam pengklasifikasian produk yaitu:


Ø  Faktor pangsa pasar (Market share)
Market Share menunjukkan besarnya pangsa pasar dari volume penjualan suatu produk dibandingkan dengan para pesaingnya. Dalam hal ini, dapat dilihat jumlah pasar yang dikuasai oleh perusahaan dibandingkan dengan pasar secara keseluruhan.
Pangsa pasar Holcim di seluruh Indonesia, Holcim menguasai 14% pangsa pasar semen. Ini tejadi pada tahun 2008 dimana laba bersih yang dikantongi mencapai Rp 282,2 ditahun 2009, akibatnya pertumbuhan volume penjualan semen Holcim Indonesia masih berada di bawah level pertumbuhan industri semen nasional. Volume penjualan semen domestik secara nasional tumbuh 6,2% dari 38,41 juta ton pada tahun 2009 menjadi 40,79 juta ton pada 2010. Pangsa pasar Holcim di Indonesia pada tahun 2011 meningkat 2 persen, menjadi 15,5 persen, sedangkan 2012 Holcim target pertahankan pangsa pasar sebesar 15,5 Persen. Bila dilihat secara keseluruhan maka holcim pangsa pasar PT Holcim, Tbk, terbesar ada ditahun 2011, walaupun ditahun 2012 tidak terjadi kenaikan. Holcim hanya tetap bertahan pada pangsa pasar 15,5 %. Bila kita ambil contoh dari data perusahaan  Posisi Semen Gresik Group sebagai pemimpin pasar ditempel PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Produsen semen merek Tiga Roda yang memiliki kapasitas produksi 18,6 juta ton tersebut tercatat menguasai 30,9 persen pangsa pasar semen domestik. Selanjutnya PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) di posisi ketiga dengan pangsa 13,6 persen.


Ø  Faktor pertumbuhan pasar (Market growth)
Market growth adalah proyeksi tingkat penjualan untuk pasar yang akan dilayani. Biasanya diukur dengan peningkatan persentase dalam nilai atau volume penjualan.
Penjualan
2008
Semen
4.027.078
Beton
739.281
Agregat
37.018
jumlah
4.803.377

Penjualan
2009
Semen
5.119.354
Beton
776.103
Agregat
48.424
jumlah
5.943.881

Penjualan
2010
Semen
5.087.371
Beton
827.669
Agregat
45.549
jumlah
5.960.589

Penjualan
2011
Semen
6.360.878
Beton
1.104.651
Agregat
58.435
jumlah
7.523.964

Penjualan
2012
Semen
7.704.229
Beton
1.247.217
Agregat
59.630
jumlah
9.011.076

Peningkatan produk semen
1)      Tahun  2008 sampai dengan 2009 = 5.119.354 – 4.027.078/4.027.078 X 100%  = 2,7 %
Mengalami kenaikan sebesar = 2,7 %
2)      Tahun  2009 sampai dengan 2010 = 5.087.371 - 5.119.354/5.119.354 X 100%=  - 0,62%
Mengalami penurunan sebesar = 0,62%
3)      Tahun  2010 sampai dengan  2011 = 6.360.878 - 5.087.371/5.087.371 X 100%= 25%
Mengalami kenaikan  sebesar = 25%
4)      Tahun  2011 sampai dengan 2012 = 7.704.229 - 6.360.878/6.360.878 X 100%= 21,1 %
Mengalami kenaikan  sebesar = 21,1 %
Kenaikan terbesar di 2010-2011
Peningkatan produk beton
1)      Tahun  2008 sampai dengan 2009 = 776.103 – 739.281/739.281 x 100%= 5%
Mengalami kenaikan sebesar 5%
2)      Tahun  2009 sampai dengan 2010 = 827.669 – 776.103/776.103 x 100%
= 6,7 %
Mengalami kenaikan sebesar 6,7%
3)      Tahun  2010 sampai dengan 2011 = 1.104.651-827.669/827.669 x 100%= 33,5 %
Mengalami kenaikan sebesar 33,5%
4)      Tahun  2011sampai dengan 2012 = 1.247.217 - 1.104.651/1.104.651 x  100 %= 13 %
Mengalami kenaikan sebesar 13%
kenaikan terjadi pada tahun 2010-2011 yaitu 33,5 %
Peningkatan agregat
1)      Tahun  2008 sampai dengan 2009 = 48.424 -37.018 / 37.018 X100%= 31 %
Mengalami kenaikan sebesar 31%
2)      Tahun  2009sampai dengan 2010 =45.549 - 48.424/48.424 X 100 % = -6%
Mengalami penurunan sebesar – 6%
3)      Tahun  2010 sampai dengan 2011 = 58.435 -  45.549/45.549 x 100 = 28,3 %
Mengalami kenaikan sebesar 28,3 %
4)      Tahun  2011 sampai dengan 2012 = 59.630 - 58.435/58.435 x 100 %= 2,04%
Mengalami kenaikan sebesar 2,04 %
Peningkatan pada tahun 2008-2009
SEMEN
2008-2009
2009-2010
2010-2011
2011-2012
Kenaikan 2,7%
Penurunan 0,62%
Kenaikan 25%
Kenaikan 21,1 %

BETON
2008-2009
2009-2010
2010-2011
2011-2012
Kenaikan 5%
Kenaikan 6,7 %
Kenaikan 33,5%
Kenaikan 13 %

AGREGAT
2008-2009
2009-2010
2010-2011
2011-2012
Kenaikan 31%
Penurunan -6%
Kenaikan 28,3%
Kenaikan 2,03 %

Berdasarkan BCG matrix maka PT. Holcim Indonesia, Tbk termasuk dalam Cash Cows, pada posisi ini perusahaan telah melewati posisi star, dimana potensi pasar yang ada telah dimanfaatkan secara maksimal dengan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Karena tidak ada perubahan yang berarti pada penjualan, tapi perusahaan sudah melakukan penjualan secara maksimal. Contohnya saja di 2010-2011 terjadi kenaikan pada semen 25%,beton 33,5 % dan, agregat 28,3 % ini disebabkan karena proyek infrastruktur yang berjalan mendorong peningkatan inisehingga daya beli konsumen naik. Kenapa ini termasuk cash cows karena kenaikan kadang-kadang besar dan bisa juga menjadi turun melebihi presentasi sebelumnya.

BAB V
KESIMPULAN

Dari hari ke hari baik return saham maupun return pasar harian PT. Holcim Indonesia, Tbksangatlah fluktuatif. Semakin tinggi tingkat return, semakin besar juga tingkat resiko yang dihadapi perusahaan, begitu juga sebaliknya.
Dari datareturn saham harianPT. Holcim Indonesia, Tbkdiperoleh rerata Ri sebesar 0.498232942 lebih rendah dibanding rerata Rm sebesar 0.56289812, maka dapat dikatakan berpengaruh negatif terhadap perusahaan.
Sedangkan pada beta saham PT. Holcim Indonesia, Tbk, berdasarkan hasil yang didapat β 1,0007> 1 sehingga keuntungan yang didapat bisa lebih besar.Karena beta saham tinggi,berarti risiko PT. Holcim Indonesia, Tbkterhadap saham tersebut tinggi dan memiliki tingkat pengembalian investasi yang tinggi juga. Selain itu berpengaruh positif terhadap return saham,artinya  karenaβ 1,0007 > 1 maka akan mempengaruhi besar return saham.
Jika dilihat berdasarkan BCG matrix maka PT. Holcim Indonesia, Tbk termasuk dalam Cash Cows.Karena tidak ada perubahan yang berarti pada penjualan, tapi perusahaan sudah melakukan penjualan secara maksimal. Contohnya saja di 2010-2011 terjadi kenaikan pada semen 25%,beton 33,5 % dan, agregat 28,3 % ini disebabkan karena proyek infrastruktur yang berjalan mendorong peningkatan inisehingga daya beli konsumen naik. Kenapa ini termasuk cash cows karena kenaikan kadang-kadang besar dan bisa juga menjadi turun melebihi presentasi sebelumnya.

REFERENSI
http://bankirnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=131:pengertian-risiko-operasional&catid=96:risiko-operasional&Itemid=149