BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Setiap perusahaan
mempunyai suatu misi dan misi.Pada era modern seperti saat ini, setiap
perusahaan bersaing untuk mencapai posisi yang sekuat-suatnya dalam
pasar.Dengan menggunakan sistem pasar, teknologi informasi untuk menganalisi
masalah-masalah yang terjadi dalam pasar.untuk proses informasi sebagai
pendukung yang lebih baik, manajemen perusahaanpun harus benar-benar aktif
dalam menanggapi masalah tersebut. Dalam perusahaan PT. Holcim Indonesia, Tbkini perusahaan selalu melihat resiko pada pasar
sehingga tiap tahunnya produk mereka bisa terus mengalami volume penjualan yang
terus meningkat.Berorientasi pada pasar dan juga memberikan pelayanan yang
terbaik pada masyarakat.Sehingga terbukti sampai sekarang perusahaan ini bisa
terus melayani masyarakat dan selalu memberikan produk-produk yang terbaik.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka terdapat
beberapa rumusan masalah sebagai berikut:
·
Bagaimana deskripsi PT. Holcim Indonesia, Tbk?
·
Bagaimana caramenganalisis risiko saham
perusahaan,risiko pasar,dan risiko bisnis PT. Holcim Indonesia, Tbk?
·
Bagaimana cara menganalisis portfoilio
bisnis,PT. Holcim Indonesia, Tbkdengan
menggunakan BCG Matrix?serta faktor-faktor yang digunakan untuk menganalisis.
1.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka beberapa
tujuan sebagai berikut :
·
Untuk dapat menjelaskan deskripsi PT. Holcim Indonesia, Tbk
· Untuk dapat menjelaskan cara
menganalisis risiko saham perusahaan,risiko pasar,dan risiko bisnis PT. Holcim Indonesia, Tbk
· Untuk dapat menjelaskan cara menganalisis
portfoilio bisnis, PT. Holcim
Indonesia, Tbk dengan menggunakan BCG Matrix serta faktor-faktor yang
digunakan untuk menganalisisi.
BAB
II
PT. HOLCIM INDONESIA, Tbk
2.1 Profil Perusahaan
Holcim dikenal
sebagai pelopor dan inovator di sektor industri semen yang tercatat sebagai
sektor yang tumbuh pesat seiring pertumbuhan pasar perumahan, bangunan umum dan
infrastruktur.Kini tengah dikembangkan usaha waralaba yang unik, yakni Solusi Rumah, yang menawarkan solusi perbaikan dan pembangunan rumah dengan biaya
terjangkau dengan dukungan lebih dari 14.700 ahli bangunan binaan Holcim,
waralaba yang hingga 2012 telah mencapai 433 gerai, dan staf penjualan
via telepon yang jumlahnya terus bertambah. Holcim Beton adalah perusahaan yang
pertama memasarkan SpeedCrete®,
produk beton cepat kering untuk membantu menghemat waktu perbaikan jalan dan
proyek pembangunan, sementara layanan pemesanan via telepon MiniMix memudahkan
konsumen mendapatkan produk beton jadi pada hari yang sama.Berikut ini adalah
Dewan direksi dalam perusahaan holcim :
2.2
Visi& Misi
Misi
Membangun Holcim
Indonesia menjadi perusahaan yang memberikan nilai tambah bagi para pemangku
kepentingan dengan:
Ø Menyediakan solusi pembangunan sesuai prinsip
berkelanjutan bagi setiap segmen pelanggan tertentu.
Ø Memperhatikan keselamatan kerja dan kelestarian
lingkungan.
Ø Membina kemampuan sumber daya manusia,
berinovasi dan membangun jaringan yang kuat.
Visi
Menyediakan solusi
berkelanjutan untuk membangun masa depan masyarakat.
2.3
Sekmen Pasar
Saat ini sedang
dibangun unit produksi yang ketiga di Tuban, Jawa Timur, yang berkapasitas
tahunan 3,4 juta ton dan direncanakan mulai berjalan pada tahun 2013 ini.Kami
satu-satunya produsen yang menyediakan produk dan layanan terintegrasi yang
meliputi 10 jenis semen, beton dan agregat.Sekmen bisnis antara lain :
Semen
- Holcim Indonesia memproduksi
sekitar 7 juta ton semen dan klinker pertahun untuk memenuhi kebutuhan
pasar dalam negeri maupun untuk diekspor ke negara-negara sekawasan.
Agregat
- Holcim Indonesia mengoperasikan dua
tambang agregat, yaitu di Maloko, Jawa Barat, dan di Jeladri, Jawa Timur.
Keduanya memasok bahan untuk proyek pembangunan infrastruktur dan umum
skala besar, dan untuk Holcim Beton yang memproduksi beton jadi.
Beton
- Holcim Beton beroperasi selama 24 jam per hari melalui jaringan pengolahan beton jadi yang terletak di jantung kota dan sekitar Jakarta dan Surabaya serta lokasi-lokasi strategis lainnya di Jawa,semakin dekat dengan pelanggan dan menyediakan armada truk mixer dalam jumlah besar.
BAB
III
ANALISIS
STANDAR DEVIASI RISIKO SAHAM, RISIKO PASAR, DAN RISIKO BISNISPT. HOLCIM INDONESIA, Tbk
3.1 Analisis standar deviasi Return Saham dan
Return Pasar
Return merupakan hasil yang diharapkan akan
diperoleh di masa mendatang dari investasi dan untuk mendapatkannya biasanya
akan disertai dengan berbagai macam risiko. Analisis tingkat return saham dan
pasar merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menentukan tingkat
return dan risiko.
Standar deviasi : disebut juga simpangan baku. Seperti
halnya varians, standar deviasi juga merupakan suatu ukuran dispersi atau
variasi. Standar deviasi merupakan ukuran dispersi yang paling banyak
dipakai. Hal ini mungkin karena standar deviasi mempunyai satuan ukuran
yang sama dengan satuan ukuran data asalnya. Misalnya, bila satuan data asalnya
adalah cm, maka satuan standar deviasinya juga cm.
Daily Stock Return
Ri = 0.498232942
Daily Market Return
Rm = 0.56289812
3.2 Beta ( β )
Berdasarkan sumber terpercaya, beta adalah mendefinisikan
sebagai sensitivitas dari return saham terhadap return pada portofolio pasar.
Beta juga dikenal sebagai elastisitas keuangan.
ü Ketika beta " 1 " itu berarti harga
saham sensitif terhadap fluktuasi pasar karena ketika perubahan return pasar,
sehingga harga saham akan berubah (mengikuti harga pasar). Misalnya jika pasar
naik, sehingga harga saham akan naik, tetapi jika pasar turun, sehingga harga
akan turun drastis.
ü Saham dengan elastisitas atau beta di atas
" 1 " yang dikenal sebagai saham agresif.
ü Kemudian jika beta kurang dari "1"
itu berarti harga saham tidak sensitif terhadap beberapa perubahan pasar, atau
mungkin kita dapat mengatakan bahwa harga saham lebih stabil (tidak benar-benar
mengikuti harga pasar). Jadi, ketika perubahan return pasar, harga saham tidak
akan berubah secara signifikan. Saham dengan elastisitas atau beta bawah
"1" yang dikenal sebagai saham defensif.
Maka, berdasarkan hasil yang didapat sesuai laporan
perusahaan β = 1,0007 (Saham dengan elastisitas atau beta di atas " 1
" yang dikenal sebagai saham agresif ).Dimana beta sangat mempengaruhi keputusan
untuk buy atau sell suatu saham, tentunya bila keadaan sangat agresif PT.
Holcim Indonesia, Tbk bisa saja menjual atau tidak sahamnya karena β 1,0007> 1
sehingga keuntungan yang didapat bisa lebih besar.Karena beta saham
tingg,berarti risiko PT. Holcim Indonesia, Tbkterhadap saham tersebut tinggi dan memiliki tingkat
pengembalian investasi yang tinggi juga. Selain itu berpengaruh positif
terhadap return saham,artinya karenaβ
1,0007 > 1 maka akan mempengaruhi besar return saham.
3.
3. Risiko bisnis perusahaan
Jenis resiko perusahaan PT. Holcim Indonesia,
Tbk adalah :
1. Risiko teknis :Risiko yg terjadi akibat wirausaha
kurang mampu dalam mengambil keputusan. Faktor penyebab:
ü Terjadi pemogokan karyawan, akibat
kesejahteraan kurang diperhatikan
ü Terjadi kebakaran akibat keteledoran dan kurang kecermatan
ü Penempatan tenaga kerja yang kurang tepat
sehingga produktivitas kerja menurun
Dari
beberapa faktor penyebab terjadinya risiko teknis diatas, PT. Holcim Indonesia,
Tbk. telah melakukan antisipasi yaitu dengan menerapkan “Kesehatan dan
Keselamatan Kerja” yang dengan slogannya “Utamakan Keselamatan – Tanpa
Kompromi”. Dengan slogan tersebut PT. Holcim Indonesia, Tbk. telah behasil
mencapai tujuan perusahaan untuk menyediakan tempat kerja yang aman dari bahaya
bagi karyawannya. Contoh bentuk pelatihan “Kesehatan dan Keselamatan Kerja”
yang diterapkan PT. Holcim Indonesia, Tbk adalah cara mengemudikan kendaraan
dengan baik, cara mengendarai dan mengendalikan dump truck, membuat program
penanganan kondisi darurat, cara mengoperasikan forklift, P3K, vertical rescue,
dan lain-lain.
2. Risiko operasianal : Risiko operasional
adalah risiko yang antara lain disebabkan ketidakcukupan dan atau tidak
berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, adanya
problem eksternal.Faktor penyebab:
ü Infrastruktur, seperti Teknologi, Kebijakan,
Lingkungan, Pengamanan, Perselisihan,dll
ü Proses
ü Sumber daya
Dari beberapa
faktor penyebab terjadinya risiko operasional diatas, PT. Holcim Indonesia,
Tbk. telah mengambil tindakan yaitu dengan didirikannya Akademi Holcim yang fungsinya
sebagai pusat pendidikan sumber daya
manusia dan merupakan yang pertama di kawasan Asia Pasifik, merumuskan
dan menyelenggarakan beragam program
pengembangan diri dan organisasi. Akademi ini mengadakan pendidikan ketrampilan
di bidang kepemimpinan dan manajemen, pendidikan teknis dan fungsional, serta
program pelatihan yang dirancang secara khusus, yaitu program Organizational
Performance Improvement (OPI). Produksi semen juga semakin tinggi dengan
menekan faktor kerugian produksi, peningkatan kemampuan teknis dan motivasi
tim, serta kecakapan karyawan dalam memecahkan masalah.
3. Risiko pasar : Risiko yang terjadi akibat produk yang dihasilkan kurang
laku atau tidak laku di pasar. Faktor penyebab:
ü Adanya perkembangan teknologi
ü Produk sudah kuno (absolensence)
ü Kegagalan dalam memprediksi perubahan pasar
Dari beberapa faktor
penyebab terjadinya risiko pasar diatas, PT. Holcim Indonesia, Tbk. telah
mengambil tindakan yaitu dengan melakukan inovasi, hal ini dilakukan agar dapat
bersaing dengan pesaing lain, selain itu juga untuk mendekatkan diri lebih
kepada konsumen. Contoh inovasi yang dilakukan adalah Solusi Rumah. Solusi
Rumah merupakan sistem pembangunan rumah dengan biaya terjangkau yang
melibatkan produksi material berbasis semen, toko material, lembaga keuangan,
disain rumah, dan teknik konstruksi yang aman dan cepat dengan menggunakan ahli
bangunan yang berkualitas. Sementara tim arsitek Holcim terus menciptakan
berbagai disain rumah.
Pada gambar berikut ini
kami menghubungkan Rata-Rata Kurs dengan Rata-Rata IHSGdan Resiko Bisnis
Dalam resiko bisnis pasti tidak dapat lepas dari yang
namanya Kurs dan IHSG karena mempunyai hubungan yang erat, misal saat anda akan
membeli suatu saham pasti anda akan mempertimbangkan Kursnya, apakah naik
turunnya nilai tukar rupiah sudah dalam harga yang wajar, sedangkan IHSG
menunjukkan pergerakan pertumbuhan sahamnya, apakah saham yang akan dibeli
tersebut nantinya akan mendatangkan keuntungan atau merugi.
BAB
IV
ANALISIS
PORTFOLIO PT.
HOLCIM,
Tbk
DENGAN
MENGGUNAKAN BCG MATRIX
4.1 BCG
MATRIX
Boston Consulting
Group (BCG) Matrix merupakan metode yang digunakan untuk penyususnan strategic
business unit (SBU) dengan melakukan klasifikasi BCG Matrix yang dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu:
-
Star, pada posisi ini perusahaan benar-benar
berada dalam posisi puncak dimana berada dalam kondisi pertumbuhan pasar cukup
pesat di lain pihak konsumen atau pangsa pasar yang dimiliki oleh perusahaan
tersebut juga tinggi. Dalam posisi perusahaan akan gencar melakukan investasi
yang cukup besar dalam meningkatkan kemampuan produksi serta kemampuan
persediaan serta distribusinya sehingga dapat memanfaatkan dengan maksimal
potensi pasar yang masih bertumbuh ini.
-
Cash
Cows, pada posisi ini
perusahaan telah melewati posisi star, dimana potensi pasar yang ada telah
dimanfaatkan secara maksimal dengan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan.
-
Dogs, pada posisi ini perusahaan benar mengalami
situasi yang sulit, dimana pangsa pasar yang kecil, artinya perusahaan tidak
memiliki jumlah konsumen yang cukup banyak dan perusahaan juga berada pada
posisi dimana pertumbuhan pasarnya rendah.Perusahaan pada posisi ini perlu
melakukan perbaikan yang seperti inovasi produk hingga strategi dalam promosi
agar dapat merebut pangsa pasar.
- Questions
Marks, kondisi ini buruk
bagi perusahaan karena kebutuhan kasnya tinggi sementara pendapatannya
rendah.Pada posisi ini perusahaan atau produk berada pada posisi dimana
memiliki pangsa pasar yang kecil tetapi masih berada dalam kondisi dimana pasar
mengalami pertumbuhan yang cukup besar sehingga masih terdapat potensi untuk
menjadi star.
Bila dilihat dari
pangsa pasar PT. Holcim Indonesia, Tbktermasuk
dalam cash cows karena perusahaan cenderung dalam kondisi yang stabil kalaupun
naik, kenaikan tidaklah terlalu
tinggi.
4.2
Faktor-Faktor yang Digunakan untuk Analisis BCG Matrix
Dalam analisis BCG
Matrix, terdapat dua faktor yang paling mempengaruhi dalam pengklasifikasian produk yaitu:
Ø Faktor pangsa pasar (Market share)
Market Share
menunjukkan besarnya pangsa pasar dari volume penjualan suatu produk
dibandingkan dengan para pesaingnya. Dalam hal ini, dapat dilihat jumlah pasar
yang dikuasai oleh perusahaan dibandingkan dengan pasar secara keseluruhan.
Pangsa pasar Holcim di seluruh Indonesia, Holcim menguasai 14% pangsa pasar semen. Ini tejadi
pada tahun 2008 dimana laba bersih
yang dikantongi mencapai Rp 282,2 ditahun 2009,
akibatnya pertumbuhan volume penjualan semen Holcim
Indonesia masih berada di bawah level pertumbuhan industri semen nasional.
Volume penjualan semen domestik secara nasional tumbuh 6,2% dari 38,41 juta ton
pada tahun 2009 menjadi 40,79
juta ton pada 2010. Pangsa pasar
Holcim di Indonesia pada tahun 2011
meningkat 2 persen, menjadi 15,5 persen, sedangkan 2012 Holcim target
pertahankan pangsa pasar sebesar
15,5 Persen. Bila dilihat secara keseluruhan maka holcim pangsa pasar PT
Holcim, Tbk, terbesar ada ditahun 2011, walaupun ditahun 2012 tidak terjadi
kenaikan. Holcim hanya tetap bertahan pada pangsa pasar 15,5 %. Bila kita ambil
contoh dari data perusahaan Posisi Semen Gresik Group sebagai pemimpin
pasar ditempel PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP). Produsen semen merek
Tiga Roda yang memiliki kapasitas produksi 18,6 juta ton tersebut tercatat
menguasai 30,9 persen pangsa pasar semen domestik. Selanjutnya PT Holcim
Indonesia Tbk (SMCB) di posisi ketiga dengan pangsa 13,6 persen.
Ø Faktor pertumbuhan pasar (Market growth)
Market
growth adalah proyeksi tingkat penjualan untuk pasar yang akan dilayani.
Biasanya diukur dengan peningkatan persentase dalam nilai atau volume
penjualan.
|
Penjualan
|
2008
|
|
Semen
|
4.027.078
|
|
Beton
|
739.281
|
|
Agregat
|
37.018
|
|
jumlah
|
4.803.377
|
|
Penjualan
|
2009
|
|
Semen
|
5.119.354
|
|
Beton
|
776.103
|
|
Agregat
|
48.424
|
|
jumlah
|
5.943.881
|
|
Penjualan
|
2010
|
|
Semen
|
5.087.371
|
|
Beton
|
827.669
|
|
Agregat
|
45.549
|
|
jumlah
|
5.960.589
|
|
Penjualan
|
2011
|
|
Semen
|
6.360.878
|
|
Beton
|
1.104.651
|
|
Agregat
|
58.435
|
|
jumlah
|
7.523.964
|
|
Penjualan
|
2012
|
|
Semen
|
7.704.229
|
|
Beton
|
1.247.217
|
|
Agregat
|
59.630
|
|
jumlah
|
9.011.076
|
Peningkatan
produk semen
1)
Tahun 2008 sampai dengan 2009 = 5.119.354 – 4.027.078/4.027.078
X 100% = 2,7 %
Mengalami
kenaikan sebesar = 2,7 %
2)
Tahun 2009 sampai dengan 2010 = 5.087.371 -
5.119.354/5.119.354 X 100%= - 0,62%
Mengalami
penurunan sebesar = 0,62%
3)
Tahun 2010 sampai dengan 2011 = 6.360.878 - 5.087.371/5.087.371 X
100%= 25%
Mengalami
kenaikan sebesar = 25%
4)
Tahun 2011 sampai dengan 2012 = 7.704.229 -
6.360.878/6.360.878 X 100%= 21,1 %
Mengalami
kenaikan sebesar = 21,1 %
Kenaikan terbesar di 2010-2011
Peningkatan
produk beton
1)
Tahun 2008 sampai dengan 2009 = 776.103 –
739.281/739.281 x 100%= 5%
Mengalami kenaikan sebesar 5%
2)
Tahun 2009 sampai dengan 2010 = 827.669 –
776.103/776.103 x 100%
=
6,7 %
Mengalami
kenaikan sebesar 6,7%
3)
Tahun 2010 sampai dengan 2011 =
1.104.651-827.669/827.669 x 100%= 33,5 %
Mengalami
kenaikan sebesar 33,5%
4)
Tahun 2011sampai dengan 2012 = 1.247.217 -
1.104.651/1.104.651 x 100 %= 13 %
Mengalami kenaikan
sebesar 13%
kenaikan terjadi
pada tahun 2010-2011 yaitu 33,5 %
Peningkatan
agregat
1)
Tahun 2008 sampai dengan 2009 = 48.424 -37.018 / 37.018
X100%= 31 %
Mengalami kenaikan sebesar 31%
2)
Tahun 2009sampai dengan 2010 =45.549 -
48.424/48.424 X 100 % = -6%
Mengalami penurunan sebesar – 6%
3)
Tahun 2010 sampai dengan 2011 = 58.435 - 45.549/45.549 x 100 = 28,3 %
Mengalami kenaikan sebesar 28,3 %
4)
Tahun 2011 sampai dengan 2012 = 59.630 -
58.435/58.435 x 100 %= 2,04%
Mengalami kenaikan sebesar 2,04 %
Peningkatan pada tahun 2008-2009
SEMEN
|
2008-2009
|
2009-2010
|
2010-2011
|
2011-2012
|
|
Kenaikan 2,7%
|
Penurunan 0,62%
|
Kenaikan 25%
|
Kenaikan 21,1 %
|
BETON
|
2008-2009
|
2009-2010
|
2010-2011
|
2011-2012
|
|
Kenaikan 5%
|
Kenaikan 6,7 %
|
Kenaikan 33,5%
|
Kenaikan 13 %
|
AGREGAT
|
2008-2009
|
2009-2010
|
2010-2011
|
2011-2012
|
|
Kenaikan 31%
|
Penurunan -6%
|
Kenaikan 28,3%
|
Kenaikan 2,03 %
|
Berdasarkan BCG matrix maka PT. Holcim
Indonesia, Tbk termasuk dalam Cash Cows, pada posisi ini perusahaan telah
melewati posisi star, dimana potensi pasar yang ada telah dimanfaatkan secara
maksimal dengan sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan. Karena tidak ada
perubahan yang berarti pada
penjualan, tapi
perusahaan sudah melakukan penjualan secara maksimal. Contohnya saja di
2010-2011 terjadi kenaikan pada semen 25%,beton 33,5 % dan, agregat 28,3 % ini disebabkan karena proyek infrastruktur yang berjalan mendorong
peningkatan inisehingga daya beli konsumen naik. Kenapa ini termasuk cash cows
karena kenaikan kadang-kadang besar dan bisa juga menjadi turun melebihi
presentasi sebelumnya.
BAB V
KESIMPULAN
Dari hari ke hari baik
return saham maupun return pasar harian PT. Holcim Indonesia, Tbksangatlah fluktuatif. Semakin tinggi tingkat
return, semakin besar juga tingkat resiko yang dihadapi perusahaan, begitu juga
sebaliknya.
Dari datareturn saham
harianPT. Holcim Indonesia, Tbkdiperoleh rerata Ri
sebesar 0.498232942 lebih rendah dibanding
rerata Rm sebesar 0.56289812, maka dapat dikatakan
berpengaruh negatif terhadap perusahaan.
Sedangkan pada beta
saham PT. Holcim Indonesia, Tbk, berdasarkan hasil yang didapat β 1,0007> 1
sehingga keuntungan yang didapat bisa lebih besar.Karena beta saham tinggi,berarti risiko PT. Holcim Indonesia, Tbkterhadap
saham tersebut tinggi dan memiliki tingkat
pengembalian investasi yang tinggi juga. Selain itu berpengaruh positif
terhadap return saham,artinya karenaβ
1,0007 > 1 maka akan mempengaruhi besar return saham.
Jika dilihat berdasarkan
BCG matrix maka PT. Holcim Indonesia, Tbk termasuk
dalam Cash Cows.Karena tidak
ada perubahan yang berarti pada
penjualan, tapi
perusahaan sudah melakukan penjualan secara maksimal. Contohnya saja di
2010-2011 terjadi kenaikan pada semen 25%,beton 33,5 % dan, agregat 28,3 % ini disebabkan karena proyek infrastruktur yang berjalan mendorong
peningkatan inisehingga daya beli konsumen naik. Kenapa ini termasuk cash cows
karena kenaikan kadang-kadang besar dan bisa juga menjadi turun melebihi
presentasi sebelumnya.
REFERENSI
http://bankirnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=131:pengertian-risiko-operasional&catid=96:risiko-operasional&Itemid=149
